Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Napak Tilas di Jerusalem

Senin, 28 Maret 2011


KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA Tempat Yesus lahir, 2000 tahun lalu.
Menjelang Paskah tahun ini yang jatuh pada 22 April, jumlah wisatawan dari berbagai belahan dunia yang ingin melakukan perjalanan ziarah ke Jerusalem terus meningkat.
Masih ”satu paket” dalam rangkaian perjalanan ini adalah kunjungan ke Petra di Jordania dan Jericho di Palestina.
”Menjelang Paskah dan Natal, jumlah orang begitu berjubel sehingga menyulitkan untuk melakukan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lain, bukan hanya ketika berjalan kaki, tetapi juga saat naik bus rombongan,” ujar pemandu wisata di Israel, Sakher Rizkallah (43).
Lokasi yang selama ini menjadi tujuan antara lain Jericho, Bethlehem, Jerusalem, Danau Galilea, Taman Getsemani, Padang Gembala, Tembok Ratapan, hingga Laut Mati yang merupakan tempat terendah di dunia, yakni -400 meter.
Peziarah ke Jerusalem rata-rata melewatkan waktu 8-10 hari. Peziarah bisa melihat secara langsung semua tempat sejak era kelahiran Yesus hingga naik ke surga.

Makau, Kota atas Nama Tuhan

Sabtu, 19 Maret 2011

Bagi saya, Makau tak hanya kota dengan sejuta kasino, tapi sekaligus tempatnya kumpulan rumah ibadah yang mengagumkan bagi umat Nasrani. Banyak sekali gereja Katolik di sini. Karena ketika 
Portugal pertama kali tiba di tepi pantai China pada tahun 1557, Makau memang dibuat sebagai salah satu benteng Nasrani di Asia sekaligus tempat perdagangan dan dihormati sebagai “Kota atas Nama Tuhan, Makau”. Maka tak heran jika banyak kapel dan gereja berdiri di kota kecil ini. Terhitung 9 kapel dan 7 gereja besar plus 1 yang nggak boleh ketinggalan, yaitu Ruins of St Paul’s Church.
Ruins of St. Paul’s Church Gereja ini dibangun tahun 1602, bersebelahan dengan Jesuit College of St. Paul’s, universitas Barat pertama di Asia. Universitas modern ini sendiri merupakan tempat belajarnya misionaris sebelum mereka bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika.
Namun, kebakaran hebat pada tahun 1835 menghanguskan seluruh bangunan kecuali bagian depan gereja yang kini seolah menjadi gerbang masuk dan simbol kota Makau. Arsitektur bergaya campuran Renaissance Eropa dan Asia ini kini menjadi sorotan utama para wisatawan jika ke Makau. Apalagi, sadarnya pemerintah akan potensi wisata ini, lantas di area ini sering kali diadakan pertunjukkan musik lengkap dengan pencahayaan yang optimal, gratis bagi semua kalangan, baik warga sekitar maupun para pelancong seperti kita kita.
Pengalamanku dan Sophia Waktu yang tersisa bagi kami di Makau masih 7 jam. Maka tanpa membuang waktu, kami langsung mencari jalan menuju ke Ruins of St. Paul’s Church. Ternyata Makau memang benar-benar bisa dijangkau semuanya dengan jalan kaki. Gambar di peta yang nampak jauh ternyata hanya kami tempuh tak lebih dari 15 menit jalan kaki dari tempat kami makan yang tak jauh dari penginapan.
Rutenya, kami harus menemukan suatu wilayah yang disebut Senando Square, lalu ikuti saja jalanan yang kecil tersebut, agak menanjak sedikit, tapi tak akan membuat Anda lelah, karena pemandangan bangunan di kanan dan kiri jalan tampak sangat menawan.
Saat kami ke sana hampir semua bangunan itu masih tutup, karena ternyata rata rata mereka baru membuka toko pada pukul 11 dimana dipastikan para turis yang telah lelah seharian bermain kasino sudah terbangun untuk melihat keindahan sisa bangunan gereja St. Paul ini. So, kami pun tak mau kehilangan kesempatan berfoto narsis di jalanan yang indah ini.
Nah, tak lelah sama sekali, ternyata kami sudah sampai di depan anak tangga menuju Gereja St Paul. Wow, decak kagum langsung menyelimuti dada saya. Terbayang betapa indahnya jika bangunan itu masih lengkap dengan altar dan Misa Kudus di dalamnya. Megah sekali meski hanya sekadar bagian depan.

Makau, Kota Bergaya Eropa di Asia

Sabtu, 15 Januari 2011

Apabila ingin mencicipi rasanya berjalan-jalan di Eropa tanpa ingin kesulitan mengurus visa ke kedutaan dan tidak ingin terlalu menguras tabungan, Anda dapat mengunjungi Makau, sebuah kota kecil bagian dari China.Makao atau Makau adalah salah satu dari dua daerah administrasi khusus dari Republik Rakyat China, selain Hongkong. Kota Makau merupakan sebuah kota yang terkenal akan kehidupan malam dan judinya. Dapat dibilang bahwa Makau adalah sebuah Las Vegas-nya Asia karena perekonomian wilayah ini memang sangat tergantung pada kegiatan perjudian dan pariwisata kotanya.

Di balik kehidupan malamnya, Makau juga menyimpan harta karun berupa kekayaan arsitektural, tata kota, dan kuliner yang melimpah peninggalan dari pemerintahan Portugis yang menduduki Makau selama lebih dari 400 tahun, hingga diambil alih oleh pemerintah China pada tahun 1999.